Politik

Belajar Menerima yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Admin 15 June 2026 60 Views

Catatan Kecil Setelah Membaca Ataraxia



Oleh Valerie Yudistira Pramudya



Ada kalanya sebuah buku datang pada waktu yang tepat. Beberapa hari terakhir saya membaca Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme karya A. Setyo Wibowo. Di tengah berbagai rapat, diskusi, dan aspirasi yang datang silih berganti, buku ini justru mengingatkan saya pada sesuatu yang sederhana: tidak semua hal harus bisa kita kendalikan.



Sebagai wakil rakyat, saya terbiasa mendengar harapan masyarakat. Ada yang menginginkan jalan diperbaiki, penerangan jalan ditambah, akses pendidikan diperluas, hingga kesempatan kerja yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Sebagian aspirasi dapat segera ditindaklanjuti, sebagian membutuhkan proses yang panjang, dan sebagian lainnya harus menunggu karena berbagai keterbatasan yang ada.



Dulu saya berpikir bahwa tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan semua persoalan. Namun semakin banyak bertemu masyarakat, saya justru memahami bahwa tugas utama seorang pemimpin bukanlah memastikan semua keinginan terwujud. Tugas utamanya adalah hadir, mendengar, memahami, lalu memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh.



Dalam buku ini saya menemukan satu gagasan yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari: ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa mengendalikan niat, cara bekerja, integritas, dan kesungguhan. Tetapi kita tidak selalu bisa mengendalikan hasil akhirnya.



Dalam dunia politik, pelajaran ini terasa sangat nyata. Tidak semua persoalan bisa selesai dalam satu rapat. Tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi dalam satu tahun anggaran. Tidak semua perubahan dapat diwujudkan secepat yang kita inginkan. Karena itu, ketenangan tidak seharusnya lahir dari keberhasilan semata, melainkan dari keyakinan bahwa kita telah menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.



Saya percaya masyarakat tidak selalu membutuhkan janji yang besar. Mereka membutuhkan kejujuran. Mereka ingin didengar. Mereka ingin tahu bahwa aspirasinya benar-benar diperjuangkan. Selebihnya adalah proses, kerja keras, dan waktu.



Setelah menutup halaman terakhir buku ini, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Kebahagiaan tidak selalu datang ketika semua rencana berhasil diwujudkan. Kadang kebahagiaan hadir ketika kita tetap berjalan di jalan yang benar, tetap bekerja dengan niat yang baik, dan tetap menjaga kejernihan pikiran meskipun keadaan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Mungkin itulah makna ataraxia. Ketenangan untuk tetap melangkah, tanpa kehilangan semangat untuk berjuang.


Komentar (0)

Berikan Komentar